Friday, June 17, 2016

Arif Wibowo, Direktur Utama PT Citilink Indonesia: “MICE Penopang Pertumbuhan Angkutan Udara”


Ketika cuaca buruk ekonomi tengah menghantam sejumlah maskapai penerbangan, Citilink justru membukukan rapor biru. Bahkan Arif Wibowo optimistis kinerja maskapai yang dipimpinnya dapat mencapai BEP (break event point) pada akhir tahun ini. “Pendapatan kami meningkat terus. Mulai kuartal kedua, kami sudah bisa ‘menari di atas air’, pendapatan kami sudah mulai positif,” katanya bangga.
Tahun ini, Citilink mematok target ambisius: mengangkut 8,2 juta penumpang, mengoleksi 31 pesawat, dan melayani 180 rute per hari. Meski begitu, salah satu agendanya, melantai di bursa pada 2015, terpaksa ditunda. Pertumbuhan ekonomi nasional yang cenderung stagnan dan harga avtur yang terus melambung menjadi kendala utama.
Berdasarkan kalkulasinya, turbulensi yang dihadapi industri penerbangan belum menunjukkan indikasi positif hingga semester pertama tahun esok. Prinsip kehati-hatian pun diterapkannya dalam memacu mesin Citilink. Ia mengatakan  bahwa di tengah gejolak seperti saat ini, dibutuhkan lebih banyak oksigen untuk dapat melewatinya.
Agar dapat melewati cuaca buruk itu, Arif terus berupaya menekan biaya seraya mengatrol pendapatan. Di titik inilah ia melirik sektor MICE. Bagi Citilink, sektor ini merupakan penopang pertumbuhan angkutan udara dan berdampak ganda terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Potensi MICE nasional dan hasrat Citilink untuk menggarap ceruk bisnis itu disampaikan Arif ketika bertemu dengan Bayu Hari dan Nurdin Al Fahmi dari majalah VENUE pada acara Indonesia Corporate Meetings dan Incentive Travel Mart (ICMITM) yang berlangsung di Padang pada September lalu. Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana Anda melihat pertumbuhan industri MICE di Indonesia?
Multiplier effect kegiatan MICE itu banyak. MICE merupakan penopang pertumbuhan angkutan udara. Di Indonesia, MICE berpeluang besar, apalagi dengan adanya MEA pada 2015. Indonesia memiliki banyak kota yang dapat menjadi destinasi unggulan MICE. Aktivitas MICE dapat dipadukan dengan aktivitas leisure, culture, dan nature.
Bisnis MICE akan menjadi fokus kami untuk mendapatkan multiplier effect yang lebih besar. Namun, cita-cita itu harus didukung dengan peningkatan kualitas pelayanan dan infrastruktur di daerah. Hal ini penting agar orang memiliki persepsi atau tertarik membuat event di Padang, Bali, atau Yogyakarta.
Ketika bicara MICE, keamanan dan infrastruktur itu harus dipenuhi, kemudian ditunjang dengan kuliner yang enak, hotel yang nyaman, dan budaya yang dapat menerima pendatang. Saya kira, untuk saat ini Bali sangat kuat untuk menjadi ikon MICE Indonesia. Tempat lainnya juga dapat dikembangkan sebagai destinasi MICE.

Daerah mana saja yang potensial?
Dari Bali bisa turun ke Surabaya, kemudian ke Yogyakarta dan Bandung. Kalau Jakarta itu sudah pasti. Kemudian di wilayah barat ada Palembang dan Padang.
Menurut saya, Padang itu unik. Etnisnya kuat, alamnya beragam, dan masih orisinal. Padang dapat memanfaatkan potensi itu untuk bisnis MICE. Sekarang, tinggal infrastruktur yang perlu disiapkan, intermoda harus berjalan juga. Kalau akses gampang, akomodasi cukup, dan orang dilayani dengan baik, Padang akan menjadi pilihan.
Kalau MICE menjadi pilihan, persepsi orang terhadap destinasi itu akan bagus, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Dan kalau MICE sukses, yang lain pasti akan ikut. Bisnis leisure pun akan berkembang.

Apa upaya Citilink untuk menangkap pasar MICE?
Kami akan lebih banyak berperan aktif dan bundling dengan korporasi-korporasi yang memang punya potensi besar. MICE kan tidak bisa eceran, tidak ritel. Jadi B2B harus kuat. Untuk itu, kami harus dekat dengan hotelier dan korporasi yang sudah punya program MICE.
Bagaimana pun MICE tidak dapat berjalan sendiri. B2B kuat dan interkoneksi antara provider MICE (seller dan buyer) harus terjalin baik. Tanpa itu, kita tidak akan mampu. Saya kira itu strateginya: memperkuat B2B.
Sekarang Citilink telah meningkatkan target untuk korporasi. Corporate account kami sudah meningkat, sekitar 20 persen. Tadinya kami belum memperhitungkan dan melihat korporasi itu penting, tetapi dengan melihat kondisi ekonomi seperti ini, kami harus pastikan B2B kuat.

Bagaimana Anda melihat keberpihakan pemerintah terhadap MICE?
Saya melihat yang penting antara pelaku dan regulator tidak saling bertentangan: harus saling mendorong. Misalnya dengan tidak adanya regulasi yang mengetatkan industri MICE. Dan insentif yang diperlukan sebenarnya lebih untuk keberadaan infrastruktur dan kesiapan SDM. Misalnya kemampuan orang mengelola acara dan tempat wisata dengan baik.
Kemudian, membuat masyarakat dapat melayani para pendatang dengan baik. Ini perlu. Jadi peran pemerintah adalah mengedukasi masyarakat bahwa MICE itu sesuatu yang baik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bersama.

Apa kontribusi Citilink dalam menumbuhkan industri MICE?
Kegiatan ICMITM salah satunya. Kegiatan ini merupakan salah satu media untuk mempertemukan buyer dan seller. Namun, kami juga akan melakukan yang nonfisik, misalnya melalui media online, kalau perlu bidding secara online. Menurut saya, B2B itu bisa dilakukan secara fisik, dengan bertemu langsung; bisa juga secara nonfisik.

Apa upaya Citilink dalam membangun sebuah destinasi agar industri MICE ini dapat berjalan lebih cepat?
Kami sudah bekerja sama dengan beberapa hotel. Penopang MICE itu adalah transportasi dan akomodasi, itu yang paling utama. Kalau peripheral ya sightseeing, budaya, dan kuliner. Untuk itu kami akan lebih banyak bekerja sama dengan hotelier.

Apa keunggulan destinasi MICE Indonesia dibandingkan negara lain?
Indonesia negara yang kaya akan alam dan budaya. Ini menjadi faktor pembeda dari yang lain. Yang paling harus disadari adalah mengekspos diferensiasi itu. Publik juga harus disadarkan. Kalau keramahtamahan dan pelayanannya jelek, orang tidak akan kembali lagi. Kalau repeater banyak, itu berarti mereka puas; kalau tidak, berarti tidak puas.
Bayangkan saja, turis kita itu baru sekitar 10 juta. Negara lain sudah jauh di atas itu. Mereka itu promosinya, kualitas produk, dan pelayanannya kuat, diferensiasinya juga jelas.

Bagaimana status rencana IPO Citilink?
Itu sudah masuk dalam business plan lima tahunan kami. Memang tahun 2015 itu target untuk IPO Citilink. Perkembangan terakhirnya, kami ingin mencari strategic investor terlebih dahulu pada tahun ini. Kemarin, kami stop karena melihat pertumbuhan Citilink yang maju lebih cepat. Artinya, values Citilink naik sehingga ketika ditawar orang, kami tidak menjual murah. Kami melihat pertumbuhan Citilink, jadi lebih baik kami langsung menuju IPO.
Namun, kami melihat pertumbuhan ekonomi nasional stagnan. Meskipun tumbuh, tetapi jumlahnya hanya 5,1 sampai 5,2 persen. Itu di bawah ekspektasi awal karena ekspektasi kami saat itu adalah 6 atau 6,5 persen. Oleh karena pertumbuhan ekonomi stagnan, saya harus menunda IPO.

Saat banyak maskapai mengalami masa sulit, Citilink justru tumbuh. Apa resepnya?
Pertama, kami sangat memerhatikan dengan biaya. Jadi, biaya per ASK (Available Seat Kilometres) atau biaya unit kami sudah berada di bawah rata-rata LCC (Low Cost Carrier), tidak termasuk bahan bakar. Jadi, waktu kami startup, kami masih jauh di atas yang lain.
Kami pun tidak  langsung mengerem pertumbuhan secara drastis. Kami membiarkan Citilink tumbuh. Namun, biaya kami pasti juga turun. Sebagai contoh, saat ini biayanya US$2,6 sen per seat kilometer, tidak termasuk bahan bakar. Sementara itu di industri LCC, nilainya rata-rata sekitar US$2,9 sen.
Itulah survival kami untuk menghadapi turbulensi. Saat ini, saya bilang sedang ada cuaca buruk. Jadi, ketika cuaca buruk, kami masih cukup stabil untuk menghadapinya. Nah, kami memperkirakan cuaca buruk itu masih akan berlangsung hingga semester pertama tahun depan. Untuk itu, kami harus punya cukup oksigen untuk menghadapinya.
Namun, kalau pemerintahan baru dapat membuat ekonomi stabil dan harga avtur turun, itu akan menolong kami. Oleh karena itu, kami tetap melakukan pertumbuhan bisnis secara hati-hati, sebab sudah ada beberapa maskapai yang stop beroperasi pada tahun ini.

Saat ini, berapa pendapatan Citilink?
Meningkat terus. Mulai kuartal kedua, kami sudah bisa “menari di atas air”, pendapatan kami sudah mulai positif. Pada akhir tahun ini diharapkan sudah bisa break event, dan positif.
Padahal pada target awal, kami masih lost untuk tahun ini. Pada tahun pertama, kami lost US$45 juta, tahun ini lost US$13 juta. Namun, itu fase pertumbuhan. Kemungkinan kami bisa lebih baik dari itu.

Jadi kapan Citilink akan IPO?
Mungkin dua tahun ke depan (2016). IPO itu kan melihat prospek, melihat kinerja hari ini dan sebelumnya.


Sumber : Berita MICE Indonesia

Wednesday, June 15, 2016

Bukti Indonesia Pasar Potensial Eropa




Kedutaan Besar Uni Eropa menggelar Pameran Wisata dan Budaya Eropa dengan tajuk Destination Europe pada 18-19 Oktober 2014 di Balai Kartini Convention Center, Jakarta. Sebanyak 70 exhibitor dan perwakilan 24 negara anggota Uni Eropa mempromosikan tempat wisata dan budaya khas negara-negara Eropa di sini.
Destination Europe merupakan ajang perdana di Indonesia dan Asia Tenggara. Meningkatnya jumlah wisatawan Indonesia yang bepergian ke Eropa merupakan alasan Kedutaan Besar Uni Eropa mengadakannya. “Indonesia sangat spesial karena tren wisata ke luar negeri semakin populer di kalangan warganya. Kami ingin mereka tahu Eropa adalah tujuan wisata terbesar di dunia, dan bahwa sebenarnya tidak sulit untuk mengunjungi Eropa,” jelas Olof Skoog, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Brunei Darussalam, dan ASEAN.
Hal senada dilontarkan Staf Ahli Senior Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,  Syamsul Lusa. “Indonesia bukanlah sekadar wisatawan bagi negara-negara Eropa, tetapi juga pasar yang potensial. Pertumbuhan ekonomi kelas menengah yang meningkat beberapa tahun terakhir ini membuat perjalanan wisatawan Indonesia ke luar negeri semakin meningkat. Tahun lalu, ada delapan juta orang Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri,” ungkap Syamsul.
Destination Europe menampilkan perwakilan negara anggota Uni Eropa, Kementerian Luar Negeri, maskapai yang melayani rute ke Eropa, juga biro perjalanan. Mereka menyuguhkan tempat wisata dan budaya khas negara masing-masing. Sejumlah peserta dari Belanda, Inggris, dan Swedia bahkan tampil meriah dengan mendandani booth dengan pernak-pernik khas negara masing-masing, termasuk kostum nasional yang dapat dicoba pengunjung.
Salah satu kampanye yang diangkat adalah seputar visa. Uni Eropa ingin mengikis anggapan bahwa visa schengen sulit didapat. “Ini juga yang ingin kami sampaikan di pameran ini, bahwa tidak sulit mendapatkan visa ke Eropa. Pengunjung bisa mencari informasi selengkap-lengkapnya mengenai tata cara mendapatkan visa ke Eropa dengan mudah sehingga tidak lagi kesulitan di masa mendatang,” jelas Olof.
Olof juga meyakinkan bahwa pameran ini berbeda dengan travel fair lain yang pernah digelar di Jakarta. Itulah sebabnya Destination Europe tak hanya memajang stan, tetapi juga menampilkan sajian kuliner, demo memasak, pertunjukan budaya, serta talk show mengenai wisata di Eropa. Bagi pengunjung yang ingin langsung memesan paket perjalanan ke Eropa, pameran ini menghadirkan 12 biro perjalanan yang siap memberikan penawaran spesial.

Sumber : Berita MICE Indonesia

Monday, March 28, 2016

IIMS Lebih Luas, BIMS Lebih Ramai



Perhelatan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2014 akan digelar pada 18-28 September di JIExpo. Dalam pameran tahun ini, lahan pameran akan bertambah luas 10 persen dibanding tahun sebelumnya, menjadi 83.137 meter persegi. Perluasan itu guna menampung 36 merek anggota Gaikindo dan lebih dari 200 industri pendukung yang menjadi peserta pameran. Sementara untuk pengunjung pameran ditargetkan mencapai 380.000 orang.


Upaya perluasan itu dilakukan dengan menambah luas tenda pameran di area open space. “Ada penambahan tenda karena peserta memang semakin banyak,” ujar Abiyoso Wietono, Automotive Events Division Manager Dyandra Promosindo, selaku organizer IIMS 2014.
Dibandingkan pameran serupa di Bangkok, area pameran IIMS sudah jauh lebih besar. Pelaksanaan Bangkok International Motor Show (BIMS) 2014 yang berlangsung pada 26 Maret hingga 6 April di Challenger Impact Muang Thong Thani, hanya menggunakan area pameran berluas 60.000 meter persegi (net space). Dari jumlah peserta pameran, BISM hanya diikuti oleh 28 merek mobil, 9 merek motor, 7 audio maker, dan lebih dari 80 industri pendukung. 
Namun, dari sisi jumlah pengunjung dan hasil penjualan mobil selama pameran, BIMS masih lebih unggul. BIMS berhasil mendatangkan sekitar 1,7 juta pengunjung dan membukukan penjualan hingga 40.000 kendaraan. Sementara pengunjung IIMS masih bertengger di angka 300.000 dan hanya berhasil menjual sekitar 20.000 unit kendaraan pada tahun 2013.  


Sementara itu, sejumlah agen pemegang merek telah berencana untuk memamerkan teknologi terbarunya di IIMS 2014. Daihatsu misalnya, akan menampilkan enam unit mobil konsep dan tujuh unit mobil current model. Subaru juga memanfaatkan ajang IIMS untuk meluncurkan tiga produk baru bagi pasar Indonesia, yakni All-New WRX, WRX STI, dan XV STI Performance Editions. Selain itu, Subaru akan turut memamerkan kendaraan konsep dari Forester Cutaway dan varian VIZIV yang  sebelumnya dipamerkan untuk pertama kalinya di the 84th Geneve Motor Show awal tahun ini.

Friday, March 18, 2016

Tips Menangani Dangerous Good Keperluan Pameran

Dalam sebuah pameran internasional bertema pertahanan, semisal pameran Indo Defence yang berlangsung pada November mendatang, banyak terdapat barang pameran yang termasuk kategori dangerous good yang pemasukannya tentu saja memerlukan izin khusus. Karena itu, freight forwarder dan organizer pameran harus memahami betul perizinan yang diperlukan. Bila salah penanganan, bukan tak mungkin stan pameran exhibitor bakal kosong karena barang pameran terlambat proses importasinya atau bahkan tidak mendapatkan ijin keluar dari Bea Cukai.

Agar hal itu tak terjadi, berikut ini beberapa tips yang dapat menjadi catatan para exhibitor, freight forwarder, dan juga organizer dalam menangani dangerous goods:

Pengertian Dangerous Goods     
Terminologi dangerous goods ialah suatu barang berbahaya yang terbuat dari bahan atau zat yang berpotensi dapat membahayakan secara nyata terhadap kesehatan, keselamatan, atau harta milik. Bahaya yang ditimbulkan akan berakibat pada keselamatan. Adapun yang termasuk dalam dangerous goods adalah bahan peledak (termasuk di dalamnya amunisi dan flare gun), bahan gas, cairan yang mudah terbakar, bahan padat yang mudah terbakar, zat yang beroksidasi, serta bahan beracun, radioaktif, korosif, dan bahan berbahaya lainnya.

Cermat Memilih Freight Forwarder
Tak semua freight forwarder (FF) berpengalaman menangani barang-barang pameran, terutama yang termasuk dangerous goods. Menggunakan jasa perusahaan FF yang menjadi anggota ASPERAPI mungkin dapat menjadi salah satu cara mengurangi risiko dalam hal penanganan barang pameran. Untuk mengetahui siapa saja perusahaan FF yang menjadi anggota ASPERAPI, silakan kunjungi situs www.ieca.or.id.

Izin dari POLRI dan BAIS
Menyoal mekanisme penanganan barang pameran yang termasuk kategori dangerous good, misalnya senjata api, prosesnya kurang lebih sama dengan penanganan barang pameran lainnya. Namun, untuk keperluan custom clearance di bandara atau di pelabuhan harus melampirkan surat rekomendasi dari POLRI dan Badan Intelijen Strategis (BAIS). Untuk itu, jauh hari sebelum barang tiba, perusahaan FF harus melaporkan daftar barang pameran yang dibawa kliennya ke POLRI dan BAIS.

Cek Izin Importasi 
Importasi barang pameran perlu diperhatikan peruntukan barang dangerous goods yang diimpor, apakah barang tersebut tidak habis dipakai, jelas penggunaannya, izin impornya terpenuhi, kewajiban kepabeanannya terpenuhi, serta jaminan terhadap barang dipenuhi. Barang dangerous goods yang telah digunakan untuk tujuan pameran harus jelas eksportasinya (sama dengan waktu importasinya) apabila telah habis jangka waktu izin impor sementaranya atau perpanjangannya berakhir, kecuali ada hal-hal tertentu misalnya mengalami kerusakan waktu penggunaan atau hilang tanpa unsur kesengajaan.

Strong Room
Untuk barang-barang pameran yang bersifat dangerous good, misalnya senjata api, akan disimpan di Strong Room yang turut diawasi oleh organizer, instansi berwenang, dan venue owner. Dan untuk memastikan ketentuan izin impor sementara terpenuhi, pejabat bea dan cukai dapat melakukan pemeriksaan sewaktu-waktu untuk memastikan jumlah dan jenis barang impor sementara dan masih berada di lokasi penggunaan (lokasi pameran).



Thursday, March 17, 2016

Dari Atap Turun ke Lantai


Ajang pamer teknologi bangunan dan edukasi konsumen, sekaligus mengintip kemajuan negara pesaing.

Meski pasokan gas tahun 2006 minim, yang berimbas pada industri pupuk dan keramik, ternyata industri ini terus menggeliat. Permintaan yang tinggi lantaran pembangunan real estat dan pusat pertokoan yang tak henti sanggup menghidupkan industri ini. Geliat itu juga terasa di arena Jakarta Convention Center, 11-15 Juli 2007, tempat dilangsungkannya pameran keramik di Hall A dan teknologi bangunan di Hall B.
Sebuah koridor meng-hubungkan kedua area itu, yang membuat pengunjung tak merasa mengunjungi dua jenis pameran. Perpaduan dua pameran ini mirip dengan tahun lalu ketika pameran Indonesia Building Technology dipadukan dengan  properti. Jurus ini dipakai lantaran, menurut Topan Hakim, Manajer Promosi PT Debindo, event organizer acara ini, “Ketika pameran disatukan bisa mendatangkan 40 ribu lebih pengunjung.”
Dari namanya, Indo Asia Ceramic, pameran ini memang mencerminkan perkembangan industri keramik di sebagian kawasan ini. Setidaknya, dari 53 peserta pameran, 23 di antaranya berasal dari Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Cina. Tahun depan, penyelenggara berniat menggandeng asosiasi keramik Asia agar peserta dari seluruh kawasan ini mengikuti ajang tersebut.
Pameran ini bukan sekedar menjual produk. Menurut Endang Sabariah, Sekretaris Dirjen Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian, pameran ini sekaligus untuk mengukur kekuatan industri keramik negara pesaing. “Kita dapat membandingkan produk kita dengan produk luar,” ujarnya. Apa lagi, saat ini banyak produk keramik dari Cina yang masuk Indonesia.
Salah satu perusahaan yang optimistis mampu menembus pasar Indonesia adalah PT China Glaze. Perusahaan asal Taiwan ini bukan produsen keramik untuk end user. “Kami pemasok bahan baku, raw material, chemical, dan machinery untuk industri keramik,” papar Endang Kusendang, Technician PT Cerachemi

International, anak perusahaan PT China Glaze, yang beroperasi di Indonesia.
Target China Glaze dalam event ini sekedar promosi. Saat ini China Glaze masih berada di urutan dua pemasok industri keramik di Indonesia, meski di Asia menempati nomor wahid. “Umur kami masih dua tahun, masih banyak waktu mengejar pemain lama di Indonesia,” ujar Endang Kusendang.
Lain halnya dengan Fascatti, produsen batu marbel dan granit, yang telah lima kali mengikuti pameran ini. Perusahaan ini ingin menjaring transaksi Rp 5 miliar. “Kami membawa contoh produk, pemesanan akan datang enam minggu kemudian. Ada pula pesanan khusus granit tertentu yang diambil dari beberapa negara Eropa,” papar Andreas, Manajer Pemasaran Fascatti.
Kabar bagus juga datang dari Indonesia Building Technology. Pameran ini mampu mencapai 174 peserta. “Dibanding tahun lalu yang pesertanya hanya 74 peserta, kenaikannya tentu lebih besar,” kata Topan Hakim. Pameran ini menampilkan produk temuan baru dari bahan material semisal bata ringan, seng, bahan aluminium, hingga aksesoris mungil seperti saklar lampu dan gantungan baju.
Topan tak bisa memperrkirakan nilai transaksi selama pameran, pasalnya formulir transaksi tak diisi. “Transaksi biasanya terjadi usai pameran. Mereka ke sini hanya untuk memamerkan produk baru,” ujarnya.
Pameran teknologi bangunan ini bisa menjadi rujukan masyarakat yang akan membangun rumah pun merenovasi rumah mereka. Seperti pasangan Sundjaja, pegawai salah satu bank asing. Dia ingin membangun rumah untuk anaknya, sebagai kado pernikahan. “Kami sudah mereka-reka warna dan bentuk, sekarang tinggal mencocokkan dengan bahannya,” ujar Sandjaja.
Ini juga sekaligus ajang pengenalan teknologi bangunan kepada publik. Beberapa pengunjung, umpamanya, baru mengetahui di arena ini bahwa kini sedang tren aluminium alloy menjadi pengganti kayu. Selain anti rayap, perawatannya pun mudah. Bahan logam ringan ini mudah dipasang dan tahan terhadap cuaca yang berubah-ubah. Harganya pun bersaing dengan kayu jati. Untuk ukuran satu meter persegi mulai sejuta rupiah.
Ada produk powder coating, anodizing, dan wood finished aluminium. “Kami hanya ingin memperkenalkan produk kami agar langsung menyentuh end user,” ucap Bagus Permadi Darmokusumo, staf pemasaran PT Prima Metaltek. Produk yang mereka tawarkan memang unik. Ketika kayu mulai menipis dan biaya perawatannya tinggi, perusahaan ini mengubah alumunium dan memberi corak kayu jati, eboni, jati Belanda. “Itulah teknologi powder coating,” ujarnya.
Banyak pilihan teknologi dan produk ditawarkan di pameran ini. Dari atap hingga lantai. Tinggal Anda sebagai konsumen menentukan pilihan mana yang pas dengan dompet dan selera.
Fast Fact

pameran
 Indo Asian Ceramic 2007 dan Indonesia Building Technology 2007

Event organizer
PT Debindo Multi Adhiswasti

Waktu
11 – 15 Juli 2007

Peserta
174 (Indonesia Building Technology 2007) 53 (Indonesia Asian Ceramic 2007)

Pengunjung

40 ribu lebih