Thursday, March 17, 2016

Dari Atap Turun ke Lantai


Ajang pamer teknologi bangunan dan edukasi konsumen, sekaligus mengintip kemajuan negara pesaing.

Meski pasokan gas tahun 2006 minim, yang berimbas pada industri pupuk dan keramik, ternyata industri ini terus menggeliat. Permintaan yang tinggi lantaran pembangunan real estat dan pusat pertokoan yang tak henti sanggup menghidupkan industri ini. Geliat itu juga terasa di arena Jakarta Convention Center, 11-15 Juli 2007, tempat dilangsungkannya pameran keramik di Hall A dan teknologi bangunan di Hall B.
Sebuah koridor meng-hubungkan kedua area itu, yang membuat pengunjung tak merasa mengunjungi dua jenis pameran. Perpaduan dua pameran ini mirip dengan tahun lalu ketika pameran Indonesia Building Technology dipadukan dengan  properti. Jurus ini dipakai lantaran, menurut Topan Hakim, Manajer Promosi PT Debindo, event organizer acara ini, “Ketika pameran disatukan bisa mendatangkan 40 ribu lebih pengunjung.”
Dari namanya, Indo Asia Ceramic, pameran ini memang mencerminkan perkembangan industri keramik di sebagian kawasan ini. Setidaknya, dari 53 peserta pameran, 23 di antaranya berasal dari Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Cina. Tahun depan, penyelenggara berniat menggandeng asosiasi keramik Asia agar peserta dari seluruh kawasan ini mengikuti ajang tersebut.
Pameran ini bukan sekedar menjual produk. Menurut Endang Sabariah, Sekretaris Dirjen Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian, pameran ini sekaligus untuk mengukur kekuatan industri keramik negara pesaing. “Kita dapat membandingkan produk kita dengan produk luar,” ujarnya. Apa lagi, saat ini banyak produk keramik dari Cina yang masuk Indonesia.
Salah satu perusahaan yang optimistis mampu menembus pasar Indonesia adalah PT China Glaze. Perusahaan asal Taiwan ini bukan produsen keramik untuk end user. “Kami pemasok bahan baku, raw material, chemical, dan machinery untuk industri keramik,” papar Endang Kusendang, Technician PT Cerachemi

International, anak perusahaan PT China Glaze, yang beroperasi di Indonesia.
Target China Glaze dalam event ini sekedar promosi. Saat ini China Glaze masih berada di urutan dua pemasok industri keramik di Indonesia, meski di Asia menempati nomor wahid. “Umur kami masih dua tahun, masih banyak waktu mengejar pemain lama di Indonesia,” ujar Endang Kusendang.
Lain halnya dengan Fascatti, produsen batu marbel dan granit, yang telah lima kali mengikuti pameran ini. Perusahaan ini ingin menjaring transaksi Rp 5 miliar. “Kami membawa contoh produk, pemesanan akan datang enam minggu kemudian. Ada pula pesanan khusus granit tertentu yang diambil dari beberapa negara Eropa,” papar Andreas, Manajer Pemasaran Fascatti.
Kabar bagus juga datang dari Indonesia Building Technology. Pameran ini mampu mencapai 174 peserta. “Dibanding tahun lalu yang pesertanya hanya 74 peserta, kenaikannya tentu lebih besar,” kata Topan Hakim. Pameran ini menampilkan produk temuan baru dari bahan material semisal bata ringan, seng, bahan aluminium, hingga aksesoris mungil seperti saklar lampu dan gantungan baju.
Topan tak bisa memperrkirakan nilai transaksi selama pameran, pasalnya formulir transaksi tak diisi. “Transaksi biasanya terjadi usai pameran. Mereka ke sini hanya untuk memamerkan produk baru,” ujarnya.
Pameran teknologi bangunan ini bisa menjadi rujukan masyarakat yang akan membangun rumah pun merenovasi rumah mereka. Seperti pasangan Sundjaja, pegawai salah satu bank asing. Dia ingin membangun rumah untuk anaknya, sebagai kado pernikahan. “Kami sudah mereka-reka warna dan bentuk, sekarang tinggal mencocokkan dengan bahannya,” ujar Sandjaja.
Ini juga sekaligus ajang pengenalan teknologi bangunan kepada publik. Beberapa pengunjung, umpamanya, baru mengetahui di arena ini bahwa kini sedang tren aluminium alloy menjadi pengganti kayu. Selain anti rayap, perawatannya pun mudah. Bahan logam ringan ini mudah dipasang dan tahan terhadap cuaca yang berubah-ubah. Harganya pun bersaing dengan kayu jati. Untuk ukuran satu meter persegi mulai sejuta rupiah.
Ada produk powder coating, anodizing, dan wood finished aluminium. “Kami hanya ingin memperkenalkan produk kami agar langsung menyentuh end user,” ucap Bagus Permadi Darmokusumo, staf pemasaran PT Prima Metaltek. Produk yang mereka tawarkan memang unik. Ketika kayu mulai menipis dan biaya perawatannya tinggi, perusahaan ini mengubah alumunium dan memberi corak kayu jati, eboni, jati Belanda. “Itulah teknologi powder coating,” ujarnya.
Banyak pilihan teknologi dan produk ditawarkan di pameran ini. Dari atap hingga lantai. Tinggal Anda sebagai konsumen menentukan pilihan mana yang pas dengan dompet dan selera.
Fast Fact

pameran
 Indo Asian Ceramic 2007 dan Indonesia Building Technology 2007

Event organizer
PT Debindo Multi Adhiswasti

Waktu
11 – 15 Juli 2007

Peserta
174 (Indonesia Building Technology 2007) 53 (Indonesia Asian Ceramic 2007)

Pengunjung

40 ribu lebih



No comments:

Post a Comment