Ajang pamer teknologi bangunan dan edukasi konsumen, sekaligus
mengintip kemajuan negara pesaing.
Meski pasokan gas tahun 2006 minim, yang
berimbas pada industri pupuk dan keramik, ternyata industri ini terus
menggeliat. Permintaan yang tinggi lantaran pembangunan real estat dan pusat
pertokoan yang tak henti sanggup menghidupkan industri ini. Geliat itu juga
terasa di arena Jakarta Convention Center, 11-15 Juli 2007, tempat
dilangsungkannya pameran keramik di Hall A dan teknologi bangunan di Hall B.
|
Sebuah koridor
meng-hubungkan kedua area itu, yang membuat pengunjung tak merasa mengunjungi
dua jenis pameran. Perpaduan dua pameran ini mirip dengan tahun lalu ketika pameran Indonesia
Building Technology dipadukan dengan
properti. Jurus ini dipakai lantaran, menurut Topan Hakim, Manajer
Promosi PT Debindo, event organizer acara ini, “Ketika pameran disatukan bisa
mendatangkan 40 ribu lebih pengunjung.”
Dari namanya, Indo Asia Ceramic, pameran ini
memang mencerminkan perkembangan industri keramik di sebagian kawasan ini.
Setidaknya, dari 53 peserta pameran, 23 di antaranya berasal dari Malaysia,
Vietnam, Thailand, dan Cina. Tahun depan, penyelenggara berniat menggandeng
asosiasi keramik Asia agar peserta dari seluruh kawasan ini mengikuti ajang
tersebut.
Pameran ini bukan sekedar menjual produk.
Menurut Endang Sabariah, Sekretaris Dirjen Industri Agro dan Kimia Departemen
Perindustrian, pameran ini sekaligus untuk mengukur kekuatan industri keramik
negara pesaing. “Kita dapat membandingkan produk kita dengan produk luar,”
ujarnya. Apa lagi, saat ini banyak produk keramik dari Cina yang masuk
Indonesia.
Salah satu perusahaan yang optimistis mampu
menembus pasar Indonesia adalah PT China Glaze. Perusahaan asal Taiwan ini
bukan produsen keramik untuk end user. “Kami pemasok bahan baku, raw material,
chemical, dan machinery untuk industri keramik,” papar Endang Kusendang,
Technician PT Cerachemi
International, anak perusahaan PT China Glaze, yang beroperasi di
Indonesia.
Target China Glaze dalam event ini sekedar
promosi. Saat ini China Glaze masih berada di urutan dua pemasok industri
keramik di Indonesia, meski di Asia menempati nomor wahid. “Umur kami masih dua
tahun, masih banyak waktu mengejar pemain lama di Indonesia,” ujar Endang
Kusendang.
Lain halnya dengan Fascatti, produsen batu
marbel dan granit, yang telah lima kali mengikuti pameran ini. Perusahaan ini
ingin menjaring transaksi Rp 5 miliar. “Kami membawa contoh produk, pemesanan
akan datang enam minggu kemudian. Ada pula pesanan khusus granit tertentu yang
diambil dari beberapa negara Eropa,” papar Andreas, Manajer Pemasaran Fascatti.
Kabar bagus juga datang dari Indonesia Building Technology. Pameran ini mampu mencapai 174 peserta. “Dibanding tahun lalu yang pesertanya hanya 74 peserta, kenaikannya tentu lebih besar,” kata Topan Hakim. Pameran ini menampilkan produk temuan baru dari bahan material semisal bata ringan, seng, bahan aluminium, hingga aksesoris mungil seperti saklar lampu dan gantungan baju.
Kabar bagus juga datang dari Indonesia Building Technology. Pameran ini mampu mencapai 174 peserta. “Dibanding tahun lalu yang pesertanya hanya 74 peserta, kenaikannya tentu lebih besar,” kata Topan Hakim. Pameran ini menampilkan produk temuan baru dari bahan material semisal bata ringan, seng, bahan aluminium, hingga aksesoris mungil seperti saklar lampu dan gantungan baju.
Topan tak bisa
memperrkirakan nilai transaksi selama pameran, pasalnya formulir transaksi tak
diisi. “Transaksi biasanya terjadi usai pameran. Mereka ke sini hanya untuk
memamerkan produk baru,” ujarnya.
Pameran teknologi bangunan ini bisa menjadi
rujukan masyarakat yang akan membangun rumah pun merenovasi rumah mereka.
Seperti pasangan Sundjaja, pegawai salah satu bank asing. Dia ingin membangun rumah
untuk anaknya, sebagai kado pernikahan. “Kami sudah mereka-reka warna dan
bentuk, sekarang tinggal mencocokkan dengan bahannya,” ujar Sandjaja.
Ini juga sekaligus ajang pengenalan teknologi
bangunan kepada publik. Beberapa pengunjung, umpamanya, baru mengetahui di
arena ini bahwa kini sedang tren aluminium alloy menjadi pengganti kayu. Selain
anti rayap, perawatannya pun mudah. Bahan logam ringan ini mudah dipasang dan
tahan terhadap cuaca yang berubah-ubah. Harganya pun bersaing dengan kayu jati.
Untuk ukuran satu meter persegi mulai sejuta rupiah.
Ada produk powder coating, anodizing, dan wood
finished aluminium. “Kami hanya ingin memperkenalkan produk kami agar langsung
menyentuh end user,” ucap Bagus Permadi Darmokusumo, staf pemasaran PT Prima Metaltek.
Produk yang mereka tawarkan memang unik. Ketika kayu mulai menipis dan biaya
perawatannya tinggi, perusahaan ini mengubah alumunium dan memberi corak kayu
jati, eboni, jati Belanda. “Itulah teknologi powder coating,” ujarnya.
Banyak pilihan teknologi dan produk ditawarkan di pameran ini.
Dari atap hingga lantai. Tinggal Anda sebagai konsumen menentukan pilihan mana
yang pas dengan dompet dan selera.
Fast Fact
pameran
Indo Asian Ceramic 2007 dan
Indonesia Building Technology 2007
Event organizer
PT Debindo Multi Adhiswasti
Waktu
11 – 15 Juli 2007
Peserta
174 (Indonesia Building Technology 2007) 53 (Indonesia Asian
Ceramic 2007)
Pengunjung
40 ribu lebih
Sumber : Berita MICE Indonesia

No comments:
Post a Comment