Friday, June 17, 2016
Arif Wibowo, Direktur Utama PT Citilink Indonesia: “MICE Penopang Pertumbuhan Angkutan Udara”
Ketika cuaca buruk ekonomi tengah menghantam sejumlah maskapai penerbangan, Citilink justru membukukan rapor biru. Bahkan Arif Wibowo optimistis kinerja maskapai yang dipimpinnya dapat mencapai BEP (break event point) pada akhir tahun ini. “Pendapatan kami meningkat terus. Mulai kuartal kedua, kami sudah bisa ‘menari di atas air’, pendapatan kami sudah mulai positif,” katanya bangga.
Tahun ini, Citilink mematok target ambisius: mengangkut 8,2 juta penumpang, mengoleksi 31 pesawat, dan melayani 180 rute per hari. Meski begitu, salah satu agendanya, melantai di bursa pada 2015, terpaksa ditunda. Pertumbuhan ekonomi nasional yang cenderung stagnan dan harga avtur yang terus melambung menjadi kendala utama.
Berdasarkan kalkulasinya, turbulensi yang dihadapi industri penerbangan belum menunjukkan indikasi positif hingga semester pertama tahun esok. Prinsip kehati-hatian pun diterapkannya dalam memacu mesin Citilink. Ia mengatakan bahwa di tengah gejolak seperti saat ini, dibutuhkan lebih banyak oksigen untuk dapat melewatinya.
Agar dapat melewati cuaca buruk itu, Arif terus berupaya menekan biaya seraya mengatrol pendapatan. Di titik inilah ia melirik sektor MICE. Bagi Citilink, sektor ini merupakan penopang pertumbuhan angkutan udara dan berdampak ganda terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Potensi MICE nasional dan hasrat Citilink untuk menggarap ceruk bisnis itu disampaikan Arif ketika bertemu dengan Bayu Hari dan Nurdin Al Fahmi dari majalah VENUE pada acara Indonesia Corporate Meetings dan Incentive Travel Mart (ICMITM) yang berlangsung di Padang pada September lalu. Berikut petikan wawancaranya.
Bagaimana Anda melihat pertumbuhan industri MICE di Indonesia?
Multiplier effect kegiatan MICE itu banyak. MICE merupakan penopang pertumbuhan angkutan udara. Di Indonesia, MICE berpeluang besar, apalagi dengan adanya MEA pada 2015. Indonesia memiliki banyak kota yang dapat menjadi destinasi unggulan MICE. Aktivitas MICE dapat dipadukan dengan aktivitas leisure, culture, dan nature.
Bisnis MICE akan menjadi fokus kami untuk mendapatkan multiplier effect yang lebih besar. Namun, cita-cita itu harus didukung dengan peningkatan kualitas pelayanan dan infrastruktur di daerah. Hal ini penting agar orang memiliki persepsi atau tertarik membuat event di Padang, Bali, atau Yogyakarta.
Ketika bicara MICE, keamanan dan infrastruktur itu harus dipenuhi, kemudian ditunjang dengan kuliner yang enak, hotel yang nyaman, dan budaya yang dapat menerima pendatang. Saya kira, untuk saat ini Bali sangat kuat untuk menjadi ikon MICE Indonesia. Tempat lainnya juga dapat dikembangkan sebagai destinasi MICE.
Daerah mana saja yang potensial?
Dari Bali bisa turun ke Surabaya, kemudian ke Yogyakarta dan Bandung. Kalau Jakarta itu sudah pasti. Kemudian di wilayah barat ada Palembang dan Padang.
Menurut saya, Padang itu unik. Etnisnya kuat, alamnya beragam, dan masih orisinal. Padang dapat memanfaatkan potensi itu untuk bisnis MICE. Sekarang, tinggal infrastruktur yang perlu disiapkan, intermoda harus berjalan juga. Kalau akses gampang, akomodasi cukup, dan orang dilayani dengan baik, Padang akan menjadi pilihan.
Kalau MICE menjadi pilihan, persepsi orang terhadap destinasi itu akan bagus, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Dan kalau MICE sukses, yang lain pasti akan ikut. Bisnis leisure pun akan berkembang.
Apa upaya Citilink untuk menangkap pasar MICE?
Kami akan lebih banyak berperan aktif dan bundling dengan korporasi-korporasi yang memang punya potensi besar. MICE kan tidak bisa eceran, tidak ritel. Jadi B2B harus kuat. Untuk itu, kami harus dekat dengan hotelier dan korporasi yang sudah punya program MICE.
Bagaimana pun MICE tidak dapat berjalan sendiri. B2B kuat dan interkoneksi antara provider MICE (seller dan buyer) harus terjalin baik. Tanpa itu, kita tidak akan mampu. Saya kira itu strateginya: memperkuat B2B.
Sekarang Citilink telah meningkatkan target untuk korporasi. Corporate account kami sudah meningkat, sekitar 20 persen. Tadinya kami belum memperhitungkan dan melihat korporasi itu penting, tetapi dengan melihat kondisi ekonomi seperti ini, kami harus pastikan B2B kuat.
Bagaimana Anda melihat keberpihakan pemerintah terhadap MICE?
Saya melihat yang penting antara pelaku dan regulator tidak saling bertentangan: harus saling mendorong. Misalnya dengan tidak adanya regulasi yang mengetatkan industri MICE. Dan insentif yang diperlukan sebenarnya lebih untuk keberadaan infrastruktur dan kesiapan SDM. Misalnya kemampuan orang mengelola acara dan tempat wisata dengan baik.
Kemudian, membuat masyarakat dapat melayani para pendatang dengan baik. Ini perlu. Jadi peran pemerintah adalah mengedukasi masyarakat bahwa MICE itu sesuatu yang baik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bersama.
Apa kontribusi Citilink dalam menumbuhkan industri MICE?
Kegiatan ICMITM salah satunya. Kegiatan ini merupakan salah satu media untuk mempertemukan buyer dan seller. Namun, kami juga akan melakukan yang nonfisik, misalnya melalui media online, kalau perlu bidding secara online. Menurut saya, B2B itu bisa dilakukan secara fisik, dengan bertemu langsung; bisa juga secara nonfisik.
Apa upaya Citilink dalam membangun sebuah destinasi agar industri MICE ini dapat berjalan lebih cepat?
Kami sudah bekerja sama dengan beberapa hotel. Penopang MICE itu adalah transportasi dan akomodasi, itu yang paling utama. Kalau peripheral ya sightseeing, budaya, dan kuliner. Untuk itu kami akan lebih banyak bekerja sama dengan hotelier.
Apa keunggulan destinasi MICE Indonesia dibandingkan negara lain?
Indonesia negara yang kaya akan alam dan budaya. Ini menjadi faktor pembeda dari yang lain. Yang paling harus disadari adalah mengekspos diferensiasi itu. Publik juga harus disadarkan. Kalau keramahtamahan dan pelayanannya jelek, orang tidak akan kembali lagi. Kalau repeater banyak, itu berarti mereka puas; kalau tidak, berarti tidak puas.
Bayangkan saja, turis kita itu baru sekitar 10 juta. Negara lain sudah jauh di atas itu. Mereka itu promosinya, kualitas produk, dan pelayanannya kuat, diferensiasinya juga jelas.
Bagaimana status rencana IPO Citilink?
Itu sudah masuk dalam business plan lima tahunan kami. Memang tahun 2015 itu target untuk IPO Citilink. Perkembangan terakhirnya, kami ingin mencari strategic investor terlebih dahulu pada tahun ini. Kemarin, kami stop karena melihat pertumbuhan Citilink yang maju lebih cepat. Artinya, values Citilink naik sehingga ketika ditawar orang, kami tidak menjual murah. Kami melihat pertumbuhan Citilink, jadi lebih baik kami langsung menuju IPO.
Namun, kami melihat pertumbuhan ekonomi nasional stagnan. Meskipun tumbuh, tetapi jumlahnya hanya 5,1 sampai 5,2 persen. Itu di bawah ekspektasi awal karena ekspektasi kami saat itu adalah 6 atau 6,5 persen. Oleh karena pertumbuhan ekonomi stagnan, saya harus menunda IPO.
Saat banyak maskapai mengalami masa sulit, Citilink justru tumbuh. Apa resepnya?
Pertama, kami sangat memerhatikan dengan biaya. Jadi, biaya per ASK (Available Seat Kilometres) atau biaya unit kami sudah berada di bawah rata-rata LCC (Low Cost Carrier), tidak termasuk bahan bakar. Jadi, waktu kami startup, kami masih jauh di atas yang lain.
Kami pun tidak langsung mengerem pertumbuhan secara drastis. Kami membiarkan Citilink tumbuh. Namun, biaya kami pasti juga turun. Sebagai contoh, saat ini biayanya US$2,6 sen per seat kilometer, tidak termasuk bahan bakar. Sementara itu di industri LCC, nilainya rata-rata sekitar US$2,9 sen.
Itulah survival kami untuk menghadapi turbulensi. Saat ini, saya bilang sedang ada cuaca buruk. Jadi, ketika cuaca buruk, kami masih cukup stabil untuk menghadapinya. Nah, kami memperkirakan cuaca buruk itu masih akan berlangsung hingga semester pertama tahun depan. Untuk itu, kami harus punya cukup oksigen untuk menghadapinya.
Namun, kalau pemerintahan baru dapat membuat ekonomi stabil dan harga avtur turun, itu akan menolong kami. Oleh karena itu, kami tetap melakukan pertumbuhan bisnis secara hati-hati, sebab sudah ada beberapa maskapai yang stop beroperasi pada tahun ini.
Saat ini, berapa pendapatan Citilink?
Meningkat terus. Mulai kuartal kedua, kami sudah bisa “menari di atas air”, pendapatan kami sudah mulai positif. Pada akhir tahun ini diharapkan sudah bisa break event, dan positif.
Padahal pada target awal, kami masih lost untuk tahun ini. Pada tahun pertama, kami lost US$45 juta, tahun ini lost US$13 juta. Namun, itu fase pertumbuhan. Kemungkinan kami bisa lebih baik dari itu.
Jadi kapan Citilink akan IPO?
Mungkin dua tahun ke depan (2016). IPO itu kan melihat prospek, melihat kinerja hari ini dan sebelumnya.
Sumber : Berita MICE Indonesia
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment